KISAH PERAIH PENGHARGAAN PEMUDA PELOPOR NASIONAL (2/HABIS)

Tamatan SMA yang Pantang Menyerah

Semangat,kerja keras,dan keikhlasan untuk mengedukasi masyarakat di daerahnya berbuah manis.Penghargaan bidang pendidikan berhasil diraih,walaupun dia hanya tamatan SMA.

DIA dinobatkan sebagai pemuda pelopor nasional di bidang pendidikan. Ini membuktikan bahwa kerja keras, ikhlas, dan cerdas untuk memajukan dunia pendidikan dapat dilakukan siapa saja, termasuk Hendri, lulusan SMA Methodist Palembang. Hendri yang sehari-hari dipanggil Koko ini, setelah tamat SMA, sebenarnya berupaya melanjutkan kuliah di perguruan tinggi.Namun,tak satu pun kuliahnya yang selesai.Dia pernah kuliah di Sekolah Tinggi Teknik (STT) Musi Palembang pada 1996 mengambil Jurusan Akuntansi. Dia pernah juga kuliah di STMIK IGM tahun 1999 di Jurusan Teknik Informatika.

Pada 2003, dia sempat menikmati bangku kuliah di Universitas Budi Luhur,Jakarta. Entah mengapa kuliahnya tak ada yang selesai dan memperoleh gelar.”Semuakuliahsayamandekdi tengah jalan,”katanya.

Namun, dia tak putus harapan. Tanpa gelar sarjana,dia tetap percaya diri untuk mengembangkan bakat dan minatnya terhadap internet. ”Dengan internet, kita dapat belajar dan mengakses semua hal dengan mudah,” ujar pria yang murah senyum ini.

Dengan kegigihannya,dia membuktikan bahwa dia sanggup memajukan dunia pendidikan dengan membuat berbagai terobosan. Hendri mengungkapkan, untuk mendapatkan penghargaan di bidang pelopor ini, dia harus melalui beberapa tahapan,mulai penyaringan tingkat kabupaten,provinsi, hingga nasional. Beruntung pada audisi final Pemuda Pelopor Tingkat Nasional, 22–26 Oktober, dia berhasil meraih penghargaan tersebut. Puncaknya pada Perayaan Sumpah Pemuda 28 Oktober, dia meraih anugerah Pemuda Pelopor Nasional dari Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng.

”Sebenarnya yang mengusulkan untuk mengikuti kegiatan ini adalah pemerintah daerah.Tidak menyangka hasilnya akan seperti ini,”katanya.

Dia dapat berdiri sejajar bersama 15 Pemuda Pelopor Nasional bidang lainnya, seperti seni dan budaya, pariwisata, kewirausahaan, bidang bahari. Predikat bergengsi tersebut turut mengharumkan masyarakat dan daerah Sumatera Selatan (Sumsel). ”Ilmu untuk memajukan dunia pendidikan ini sebenarnya saya dapat pada saat kuliah dahulu, meskipun saya juga tidak tamat. Dengan tidak langsung,hal ini juga menjadi sebuah motivasi,”katanya.

Pengalamannya mengenyam bangku kuliah,kendati tidak lulus sarjana, ditransfer kepada masyarakat. Dia memformulasikan metode dan sistem belajar komputer dan internet empat jam langsung bisa melalui lembaga pendidikan kursus yang didirikannya bersama beberapa rekan. Usaha kursus komputer tersebut masih berdiri kokoh dan kini menjadi sebuah yayasan pendidikan. Dia berharap jejaknya juga menjadi motivasi bagi kalangan pemuda lainnya untuk maju dan berkembang,walaupun memiliki keterbatasan,misalnya,bukan sarjana.

”Saya bukan merasa bangga, meskipun tidak sampai lulus sarjana, saya puas karena dapat membuat orang lain dapat menjadi seorang sarjana. Terlebih, hingga 2003, sudah 10.000 lulusan PalChomTech yang tersebar di berbagai daerah di Sumsel. Umumnya mereka yang sudah lulus sudah dapat berkarier sendiri dengan ilmu yang telah didapat,” ujar pendiri PalChom- Tech ini. (yayan darwansah)

1 Komentar »

  1. Teguh UNY Said:

    Hidup Sumatra…………..Wah bangga juga jd orang sumatra..terus berkarya dan berkarya terus


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: