Dana Kontribusi Masyarakat Capai Rp 6,8 Miliar

Meningkat Rp 5.3 Miliar

PALEMBANG (SI) – Kepedulian masyarakat terhadap penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat sangat tinggi. Buktinya dana kontribusi dari 127 masyarakat desa untuk membuat program tersebut mencapai Rp 6,8 miliar pada 2009. Jumlah ini meningkat mencapai Rp 5,3 miliar dari 2008 yang hanya Rp1,5 miliar.

“Dana Rp6,8 miliar tersebut adalah dana yang berasal dari masyarakat yang ada didelapan kabupaten/kota. Dimana dana tersebut adalah dana pendamping untuk rencana kegiatan kerja masyarakat untuk mensukseskan penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat. Jadi, tingginya dana kontribusi tersebut disebabkan oleh antusiasnya masyarakat akan peduli sanitasi dan penyediaan air minum. Oleh sebab itu, progam ini dinilai baik oleh Bank Dunia,” ujar Sekretaris Dinas PU Cipta Karya Provinsi Sumsel, Genta Titiando melalui BPMU PU Cipta Karya, Jalu Pardede, di Palembang, kemarin.

Menurutnya, selain dana kontribusi dari masyarakat juga terdapat dana hiba desa dari APBN mencapai Rp24 miliar lebih, lalu dana hiba desa dari APBD Kabupaten menapai Rp3,4 miliar. Jika ditotalkan dana yang ada untuk penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat Rp34,3 miliar.

“Untuk 2009 dana program penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat meningkat drastis dari 2008. Dimana pada 2009 dana keseluruhan mencapai Rp34,3 miliar meliputi dana hiba desa dari APBN mencapai Rp24 miliar lebih, lalu dana hiba desa dari APBD Kabupaten menapai Rp3,4 miliar dan dana kontribusi masyarakat mencapai Rp6,8 miliar. Sementara pada 2008 hanya mencapai Rp7,7 miliar dengan dana hiba desa dari APBN mencapai Rp5,4 miliar, lalu dana hiba desa dari APBD Kabupaten menapai Rp780 juta dan dana kontribusi masyarakat mencapai Rp1,5 miliar. Hal ini disebabkan oleh sadarnya masyarakat dan kabupaten/kota untuk peningkatan kualitas desa,” ujar dia.

Jalu membeberkan, untuk kontribusi dana desa Kabupaten Musi Banyuasin dengan 15 desa mencapai Rp 825 juta, Lahat dengan 11 desa mencapai Rp540 juta, Musi Rawas dengan 18 desa mencapai Rp990 juta, OKI dengan 21 desa mencapai Rp1,1 miliar, Ogan Ilir dengan 19 desa mencapai Rp1,045 miliar, Muara Enim dengan 13 desa mencapai Rp701 juta, OKU Timur dengan 21 desa mencapai Rp1,1 miliar dan OKU Selatan dengan 9 desa mencapai Rp 452 juta.

“Untuk kontribusi dana masyarakat daerah yang tertinggi adalah OKI dengan dana mencapai Rp1,155 miliar dan yang terendah adalahOKU Selatan Rp 452 juta. Untuk itu, Bank Dunia akan memperbaiki program desa yang belum baik agar lebih baik lagi. Apalagi, program ini jauh berbeda dengan program PNPM. Sebab, warga menyumbang dana untuk pendaping APBD. Oleh karena itu, antusiasme warga tersebut membuat progam ini dinilai Bank Dunia berjalan baik,” ujar dia.

Namun, hambatan kendala ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti tidak sadarnya daerah untuk memajukan desa yang ada. Tetapi, saat ini tingkat kesadaran daerah makin meningkat, dimana pada 2010 program ini hanya untuk 31 desa dengan delapan kabupaten/kota, 2009 dengan 127 desa dan 2010 mencapai 125 desa.

“Sesuai target 2010 desa Pamsimas didelapan kabupaten/kota terdapat 96 desa, dimana perkabupaten/kota 12 desa ditambah dengan desa yang belum terealisasi pada 2009 mencapai 34 desa. Jadi untuk Ogan Ilir dengan 15 desa ditambah dua desa replikasi, OKI 15 desa dengan satu desa replikasi, Muara Enim 18 desa dengan satu desa replikasi, Lahat 14 desa dengan dua desa replikasi, OKU Timur 12 desa dengan satu desa replikasi, OKU Selatan 12 desa, Muba 24 desa, Mura 15 desa. Jadi jumlah desa pada 2010 mencapai 125 desa dengan 7 desa replikasi,” ujarnya.

Sementara itu, Asisten II Bidang Ekonomi Keuangan dan Pembangunan Pemprov Sumsel, H Eddy Hermanto mengungkapkan, berdasarkan hasil evaluasi dari Bank Dunia satu kabupaten kurang baik dalam mengelolah ini yakni OKU Selatan sehingga dibawah target. Dimana, terdapat beberapa desa yang belum terpenuhi.

“Berdasarkan penilaian di Provinsi Sumsel dari delapan kabupaten/kota yang masuk dalam program ini terdapat satu yang kurang baik yakni OKU Selatan. Tetapi, meskipun demikian terdapat satu desa yang baik dalam program ini yakni Mulyo Rejo Musi Banyuasin. Dimana, desa tersebut dinilai baik dalam pengelolahan air bersih, memiliki dana simpanan desa setiap bulan yang berasal dari dana hibah bantuan Bank Dunia,” ujar Eddy seraya menambahkan, jika pada penilaian akhir Sumsel bisa mempertahankan satu desa yang terbaik maka akan mendapatkan reward Rp 200 juta untuk satu desa dari tiga Provinsi yang ada. (yayan darwansah)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: