Empat SPBG Baru Disiapkan

PALEMBANG (SI) – Upaya pemerintah untuk mengganti bahan bakar minyak (BBM) dengan gas untuk kendaraan dinilai cukup berhasil. Pasalnya,saat ini sedikitnya 600 unit angkutan kota (angkot) di Kota Palembang sudah menggunakan bahan bakar gas (BBG), selain bus BRT Transmusi.

Untuk itu, guna memperlancar sistem pengisian BBG Perusahaan Daerah Pertambangan dan Energi (PDPDE) akan menambah empat stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG) baru. “Saat ini,bantuan alat converter kitatau alat tambahan untuk bahan bakar gas dari pemerintah pusat, yakni Departemen Perhubungan (Dephub), sudah di-salurkan. Saat ini sudah 600 ang-kot atau sekitar 90% sudah meng-gunakan BBG,” ujar Direktur PDPDE Hilir Nasir Alamlah kemarin.

Menurut Nasir, kendala yang dihadapi dalam pengisian BBG untuk angkot ini yakni masih minimnya SPBG, yakni baru satu unit SPBG di Jalan Demang Lebar Daun,Palembang.Akibatnya, jika angkot jurusan Plaju, Lemabang, dan Alang-Alang Lebar kehabisan BBG, mereka terpaksa mengisi kembali kendaraan mereka dengan bahan bakar bensin yang disebabkan jauhnya lokasi SPBG.

Untuk itulah, agar kondisi ini bisa teratasi, pada 2011 pihak-nya akan menambah empat SPBG baru,yakni di Plaju,Lemabang,Alang-Alang Lebar, dan kawasan Merdeka. Dengan demikian, jika kendaraan tersebut habis bahan bakar tidak akan kesulitan lagi mengisi bahan bakar. “Memang kita akui pemakaian gas untuk angkot ini masih terkendala, yakni masih kurangnya SPBG.

Jika angkot yang berada di Plaju kehabisan bahan bakar, mereka terpaksa mengisi kembali kendaraannya dengan bensin karena kendaraan tersebut memiliki dua fuel.Untuk itu, kita akan usulkan penambahan empat SPBG baru,”ujar Nasir. Keuntungan sopir jika menggunakan bahan bakar gas ini, kata Nasir, adalah bisa menghemat pemakaian bahan bakar setara dengan 10 liter bensin atau sekitar Rp40.000 per hari.

Apalagi, harga gas dengan bensin sangat jauh berbeda,yakni Rp4.500 per liter untuk bensin dan Rp3.500 liter setara premium (LSP) untuk gas.“Dalam sehari bisa 100 kendaraan yang masuk untuk mengisi bahan bakar di SPBG. Hal ini disebabkan masih minimnya kendaraan yang menggunakan BBG. Di mana, masih sebatas angkot dan bus BRT, sementara untuk kendaraan pribadi masih belum ada,”ujarnya.

Untuk pemasangan converter kit dan pengisian BBG, pihaknya melakukan beberapa tahapan seperti melalui fasilitas bengkel untuk pemeriksaan, selang, dan pengetesan. Sebab, bahan bakar yang diisi harus dipantau,mulai 30–100% pengisian. “Untuk pemasangan converter kit bagi kendaraan membutuhkan waktu sekitar tiga jam.

Pada alat tersebut sudah disediakan regulator, selang, converter kit, dan tabung,” ungkap dia. Selain hemat penggunaan bahan bakar, penggunaan gas untuk kendaraan ini juga sangat ramah lingkungan. Pencemaran lingkungan untuk satu kendaraan bisa turun mencapai seperempat dari jumlah yang ada.Namun, hal ini terkendala tahun kendaraan yang sudah tua sehingga pemakaiannya tidak begitu optimal.

“Untuk kendaraan tua karena perawatannya tidak baik sangat berpengaruh terhadap pemasangan converter. Akibatnya, alat yang dipasang tidak begitu maksimal. Dengan demikian,kita mengimbau untuk pemasangan alat tersebut untuk kendaraan tahun 2000 ke atas,”ungkap dia. Nasir menambahkan, satu tabung bahan bakar angkot bisa menampung 20 LSP, sementara untuk bus tiga kali lipat atau 60 LSP yang saat ini masih terbatas untuk Transmusi.

“Untuk ke depan, kita targetkan seluruh bus yang ada di Palembang sudah menggunakan bahan bakar gas tidak sebatas Transmusi. Kemudian bagi semua kendaraan Dinas Pemprov Sumsel dan Kota Pale-mbang juga harus menggunakan BBG,”ungkap dia. Untuk pengembangan SPBG di daerah, kata Nasir, pihaknya sudah melakukan pembicaraan dengan Bupati Ogan Ilir,Wali Kota Prabumulih, dan Bupati Muar-aenim.

Jadi,jika mereka sudah memiliki lahan, SPBG di daerah tersebut bisa dibangun dan kendaraan, baik angkot maupun kendaraan pribadi, bisa menggunakan BBG. “Memang jika pemasangan untuk umum converter kit ini senilai Rp15 jutaan. Akan tetapi, untuk pengembangan program ini kita akan mengusulkan kepada pemerintah pusat melalui Dephub agar alat tersebut bisa dibagikan gratis.

Sebab, dengan adanya kompresi tersebut bisa dipastikan akan menguntungkan pemerintah. Seperti penghematan yang terjadi akibat konversi minyak tanah ke gas sebesar Rp50 triliun,”ujarnya. Sementara itu, Kepala Dinas Pertambangan dan Energi (Kadistamben) Provinsi Sumsel Robert Heri mengungkapkan, memang pemakaian gas untuk kendaraan seperti angkot ini masih terkendala minimnya SPBG.

Untuk itu, ke depan pihaknya akan membangun empat SPBG baru seperti SPBG Alang-alang Lebar, Lemabang, Plaju, dan kawasan Merdeka. “Pemakaian gas bagi kendaraan ini sangat perlu didukung. Untuk itu, ke depan kita akan memprogramkan pemasangan tabung untuk kendaraan dinas, baik pemerintah provinsi dan kabupaten/ kota.

Apalagi, kita juga telah melakukan pembicaraan dengan Pemerintah Prabumulih, Ogan Ilir,dan OKI untuk pembangunan SPBG ini,” tukas dia seraya menambahkan, diharapkan ke depan pemasangan SPBG ini bisa menyebar di seluruh kabupaten/ kota. Apalagi, lanjut dia, program pemakaian BBG bagi kendaraan ini, Sumsel merupakan daerah pertama setelah Jakarta dan Surabaya. Untuk itu,hal ini harus didukung agar dapat berjalan baik dan sukses. (yayan darwansah)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: