Harta Karun di Musi Diawasi

PALEMBANG (SI) – Komandan Pangkalan Angkatan Laut (Danlanal) Palembang Letkol Laut (P) Eko Wahjono menegaskan,saat ini pihaknya tengah mengawasi aksi perburuan harta karun di wilayah perairan Sungai Musi.

Pengawasan ketat ini dilakukan menyusul maraknya perburuan harta karun di sejumlah wilayah perairan Indonesia, tak terkecuali di sepanjang Sungai Musi. Sebelumnya juga aksi perburuan harta karun di Sungai Musi ini sempat dilarang Wali Kota Palembang H Eddy Santana Putra. Konon, di sungai yang membelah Kota Palembang ini banyak terdapat harta karun berupa patung, keramik, dan artefak kuno. “Harta karun tersebut merupakan benda cagar budaya yang harus dijaga,” ujar Eko Wahjono seusai melakukan pertemuan dengan Gubernur Sumsel H Alex Noerdin di Kantor Gubernur kemarin. Menurut Eko, untuk saat ini pihaknya akan minta keterangan dari berbagai pihak terkait guna mencari tahu di mana saja titiktitik harta karun di sepanjang Sungai Musi.

Dengan begitu, pihaknya dapat melakukan pengawasan secara melekat. Apalagi, beberapa waktu lalu pernah terjadi perburuan harga karun di sepanjang Sungai Musi oleh warga dan pihak lainnya dengan berbagai dalih yang tak bisa dibenarkan. “Kita akan minta keterangan dari Dinas Pariwisata, arkeolog, dan pihak terkait lainnya mengenai masalah ini agar kita tidak kecolongan,”tukas dia. Dia juga menegaskan, jika nanti pihaknya menemukan adanya aksi perburuan harta karun di sepanjang Sungai Musi secara ilegal, maka pihaknya tidak akan segan-segan melakukan penangkapan dan memproses sesuai hukum berlaku.

Pasalnya, harta karun tersebut merupakan benda cagar budaya yang dilindungi undangundang. “Untuk melakukan pengawasan ini kita dibantu dengan berbagai infrastruktur, seperti perahu kecil,perahu KRI,tetapi hanya sebatas di Selat Bangka. Lalu, ditambah empat kapal viber, satu combat boat yang saat ini tengah siaga di Sungai Musi.Untuk pengejaran dirasa cukup,karena kecepatannya 40 knot,”ujar dia. Sementara itu,Gubernur Sumsel H Alex Noerdin mengungkapkan, berdasarkan cerita zaman dahulu kala, harta raja-raja kerap ditimbun di suatu tempat, seperti halnya pada zaman Kerajaan Sriwijaya. Bahkan, pada hari ulang tahun raja,kerap membuang emas seberat badannya di kolam di depan rumah yang ditem-patinya.

“Itu baru legenda, dan barangkali harus dibuktikan. Kalau di tempat lain memang ada, yakni kapalyangmengangkutartefakdan porselen yang tenggelam. Itu jadi harta karun. Apalagi, pelayaran kapal dari Tiongkok dan lainnya waktu itu sangat banyak,”ujar Alex. Terpisah,Peneliti Balai Arkeologi Kota Palembang Retno Purwanti saat dikonfirmasi mengatakan, aksi perburuan harta karun di Sungai Musi ini sudah terjadi sejak 1970-an. Tetapi, terhadap temuan warga tersebut, pihaknya tidak pernah mengetahuinya. Sebab, warga yang melakukan perburuan langsung menjual harta karun temuan itu kepada para cukong yang ada di perairan Sungai Musi. “Kita tidak memungkiri bahwa aksi perburuan harta karun ini sangat banyak terjadi di Sungai Musi,”ujar Retno.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan pihaknya selama sebulan penuh, berbagai jenis harta karun yang disinyalir peninggal-an Sriwijaya telah banyak diangkat dari dasar Sungai Musi. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya temuan arca terumbu karang berlapis emas,keramik China,koin, uang sunan,keramik dan lainnya. “Berdasarkan pengakuan para pemburu harta karun, mereka pernah mendapat arca emas yang sudah berlapis terumbu karang di dasar Sungai Musi.Harta karun tersebut dibeli oleh para pengumpul harta karun yang merupakan cukong-cukong kapal. Tetapi,kondisi ini kerap luput dari pengawasan, sehingga membuat kita tidak mengetahuinya. Apalagi, para pembeli sudah membentuk sebuah jaringan dan mafia,”tukasnya.

Dia menegaskan, pada prinsipnya benda-benda tersebut jelas sudah dilindungi Undangundang Cagar Budaya No 5/2009. Untuk itu, pihaknya mengimbau agar pemerintah daerah setempat dapat melakukan pengawasan terhadap kondisi yang akhirakhir ini marak terjadi, yakni mencegah terjadinya perburuan harta karun.

Pencurian Artefak Sulit Dibasmi

RETNO mengakui, pencurian benda peninggalan bersejarah khususnya artefak di wilayah perairan Sungai Musi masih marak terjadi.

Selain lemahnya penerapan Undang-undang (UU) Cagar Budaya, rendahnya tingkat ekonomi penduduk juga diduga menjadi pemicu utama maraknya pencurian aset negara ini. “Kalau di bawah air, itu sudah marak sejak 1970-an sampai sekarang, malah makin banyak. Sebaliknya, kalau di darat sudah tidak terdengar lagi,”ujar Retno. Retno mengaku pesimistis pencurian itu dapat dibasmi dalam waktu singkat.Sebab,selama perekonomian penduduk setempat belum bisa diperbaiki serius oleh pemerintah, pencurian semacam itu akan terus berkepanjangan.

“ Penyelam-penyelam liar ini butuh uang. Jadi, kalau berhasil menemukan benda di bawah air, biasanya langsung dijual ke pe-ngumpul untuk kebutuhan hidup,”ujarnya. Dia mengatakan, semakin maraknya perburuan terhadap barang berharga ini, juga akibat lemahnya pengawasan dan perlindungan terhadap benda cagar budaya, terlebih belum ada peraturan kuat di daerah yang mengatur soal penyelamatan benda bersejarah. Retno menyebutkan, adapun sejumlah lokasi yang jadi sasaran penyelam liar itu, di antaranya di sekitar PT Pusri sampai Pulau Kemaro. Hal itu cukup beralasan, karena di kawasan tersebut dulunya merupakan pusat keberadaan keraton-keraton terkenal di Palembang.

Selain keraton Kuto Garing dan Keraton Beringin Janggut, di sekitar wilayah itu juga pernah ada Keraton Benteng Kuto Besak, bahkan Kesultanan Palembang Darussalam. “Di sekitar tepian itu banyak yang bisa ditemukan. Kedalamannya pun paling sekitar 3 meter, karenadisepanjangwilayahitusitus arkeologinya padat,”tutur Retno. Ia juga mengaku pernah mendengar kabar bahwa di wilayah perairan itu pernah ditemukan arca emas yang dijual hingga Rp8 miliar. Sayangnya, hingga saat ini ia dan rombongan belum pernah sama sekali melihat barang temuan tersebut. Padahal, jika benar arca yang ditemukan itu berasal dari zaman Khan, temuan itu bisa menjadi bukti kuat bahwa hubungan perdagangan antara Palem-bang dan China sudah terjalin sebelum 2 Masehi lalu.

“Sayangnya,kita tidak pernah lihat itu.Ya, kalo PKL kan ada Pol PP yang menertibkan. Nah, penyelam liar ini belum ada,” selorohnya. Menurut Retno, penemuan arca emas itu bisa saja benar adanya. Karena, dalam beberapa penelitian mereka Balai Arkeologi pernah menemukan semacam botol merkuri berukuran besar. Berdasarkan penelitian pula diketahui, kalau cairan merkuri itu banyak digunakan untuk memisahkan emas dari tanah. Penemuan itu dikatakannya berada di sekitar Karang Anyar dan Gandus yang diperkirakan memiliki banyak deposit emas. Retno mengungkapkan, sejauh ini kalaupun ada barang bersejarah yang ditemukan, paling banyak berupa keramik China, uang logam VOC dan kolonial, atau uang asli yang dikeluarkan pemerintahan Kesultanan Palembang Darussalam.

Sebaliknya, di kawasan Hilir, benda bersejarah yang banyak ditemukan yakni berupa manik-manik. “Hasil temuan itu ada yang bisa ditemui di Pasar Cinde,saya pernah lihat langsung. Kalau di sini paling koin-koin yang dijual murah antara Rp300–500/keping. Kalau artefak lain saya rasa sudah dijual tak tahu ke mana,”tukasnya. Selain di Sungai Musi, artefak yang masih banyak berada di wilayah perairan adalah di pulau Bangka Belitung (Babel).Namun, bukannya peninggalan kerajaan, tapi berupa peninggalan kapalkapal yang pernah tenggelam di daerah tersebut. Sampai saat ini, kata dia, tak kurang ada 18 titik temuan barang peninggalan kapal di perairan Babel.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Kota Palembang, Jimmy Oscar Haris mengatakan, perda pembatasan penyelaman di sekitar Sungai Musi belum terlalu perlu dilakukan. Sebab, benda-benda cagar budaya itu sudah memiliki kekuatan perlindungan hukum tersendiri yang lebih kuat. “Kita kan tahu dalam undangundangnya, 30% benda yang ditemukan adalah milik negara dan 10%-nya si penemu,itu sudah cukup.Tinggal lagi bagaimana penerapan pengamanannya di lapangan,” kata Jimmy.

Hari ini, Pemerintah Lelang Harta Karun

Sementara itu, meski mendapat reaksi keras dari sejumlah kalangan, Rabu (5/5) hari ini, di Gedung Mina Bahari I, Jl Medan Merdeka Timur No 16 Jakarta Pusat,pemerintah akan melelang sekitar 200.000 lebih artefak berumur ribuan tahun yang diangkat dari muatan kapal tenggelam di perairan Cirebon. Adapun barang yang dilelang berupa hasil pengangkatan barang-barang muatan kapal yang tenggelam di perairan Laut Jawa, Cirebon, pada abad ke-10 Masehi.

Jumlahnya kurang lebih sebanyak 271.834 buah, dengan harga limit lelang sebesar USD80,000,000, dengan uang jaminan penawaran lelang sebesar USD16,000,000. Barang – barang tersebut diangkat oleh PT Paradigma Putra Sejahtera (PPs). PT PPs menjual secara borongan. Diduga benda – benda bersejarah itu peninggalan Kapal Kerajaan Sriwijaya. Reaksi keras terhadap lelang benda berharga peninggalan Dinasti Lima China sekitar abad ke 10 Masehi tersebut, salah satunya datang dari keluarga besar Kesultanan Kasepuhan Cirebon. Mereka mengaku menyesalkan sikap pemerintah yang tetap melakukan pelelangan. “Harta karun yang ditemukan di laut Cirebon sebanyak 200.000 lebih. Namun hanya hanya 900 item yang disimpan di Kementrian Budaya dan Pariwisata. Harusnya semuanya,” ujar Sultan Sepuh XIV P.R.A. Arief Natadiningrat,S.E,kemarin.

Dia menilai, pemerintah hanya melihat dari kepentingan eko-nomi jangka pendek saja, tanpa melihat aspek sejarahnya. “Kita akan kehilangan barangbarang bernilai sejarah tinggi yang belum tentu ditemukan lagi.Sangat ironis,jika anak cucu kita akan belajar sejarah bangsanya sendiri ke luar negeri,” kecamnya. (yayan darwansah/ komalasari/CR-4/ denny irawan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: