Hutan Lindung Dempo Kritis

PAGARALAM(SI) – Wali Kota Pagaralam Djazuli Kuris mengatakan,perambahan hutan yang terjadi di wilayah hutan lindung Kota Pagaralam mayoritas dilakukan warga Kabupaten Muaraenim.

Djazuli mengungkapkan hal tersebut seusai peresmian pusat kesehatan kelurahan (puskeskel) di Kelurahan Dempo Makmur,Kecamatan Pagaralam Utara, kemarin. Menurut Wali Kota,akhir-akhir ini marak perusakan hutan di wilayah lima kecamatan di Pagaralam. “Memang banyak hutan lindung sudah rusak akibat perambahan bahkan di sekitar kaki Gunung Dempo,Kota Pagaralam, justru sekitar 500 ha kritis dan mengalami kerusakan cukup parah.Bahkan kerusakan juga terjadi di sekitar bantaran sungai, lereng perbukitan,” ujarnya kemarin. Dia menyebutkan, sebagian besarperusakhutanberasaldariKabupaten Muaraenim,yang datang dengan maksud membuka lahan baru untuk perkebunan kopi dan ladang.

Untuk mengatasi hal ini,pihaknya sudah meminta kepada Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Hutbun) dan Polres Pagaralam agar menindak tegas pelaku perusakan hutan tersebut. Kalau dilihat dari kondisi hutan,bukan hanya terjadi kerusakan akibat perambahan, melainkan perluasan areal perkebunan kopi dan sayuran. “Secara keseluruhan,luas Kota Pagaralam mencapai 63.366 ha.Sekitar 15%-nya atau seluas 9504,9 ha merupakan wilayah pemukiman dan hampir 30% merupakan areal perkebunan.Tapi luas perkebunan itu terus meluas,”kata dia. Luasdaerahinidibagilagidalam hutan lindung seluas sekitar 28.740 ha, hutan budi daya sekitar 24.336 ha, yang terdiri atas lokasi pemukiman, persawahan, perkantoran, pasar, lahan sayuran, perkebunan, dan infrastruktur masyarakat.

“Kita baru akan melakukan pengukuran dan pembuatan tapal batas hutan lindung dengan hutan rakyat,perkebunan kopi,sayur,dan daerah pemukiman yang berada di kawasan terpencil,seperti Talang,” ungkapnya. Sementara itu, Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Pagaralam Hasan Barin mengatakan,secara keseluruhan, luas kerusakan hutan lindung di wilayah Kota Pagaralam mencapai 7.950 ha. Luas keseluruhan hutan lindung 28.740 ha,1.000 ha dari jumlah itu berada di kaki Gunung Dempo dan kondisinya kritis. “Memang kalau kondisi hutan lindung yang kerusakannya paling parah ada sekitar 5.000 ha yang tersebar di beberapa daerah atau kecamatan, seperti Dempo Utara, Dempo Tengah,Dempo Selatan,Pagaralam Selatan.Kerusakan hutan kota cukup banyak faktornya, seperti perambahan, alih fungsi, illegal logging, pergeseran batas hutan lindung dengan perkebunan rakyat,”ungkapnya.

Menurut dia,berdasarkan data, penambahan kerusakan hutan lindung berada di daerah Bukit Dingin seluas 3.750 ha dan bukit batok sekitar 2.400 ha, dan 1.300 ha lagi di daerah Dusun Tebat Benawah dan Dusun Tebad Lereh,Kelurahan Penjalang,Kecamatan Dempo Tengah. “Sebetulnya ada beberapa daerah sudah dilakukan penanaman kembali,seperti di 700 ha hutan lindung di Dusun Kerinjing, 350 ha Kelurahan Atungbungsu, dan 750 ha tersebar di beberapa kecamatan lainnya.Namun,akibat belum adanya kejelasan batas hutan lindung dan hutan rakyat juga menjadi kendala dalam upaya pengendalian,” pungkasnya.

Sementara itu, beberapa daerah di Provinsi Jambi malah menuding warga Pagaralam yang banyak merusak kawasan hutan lindung di Provinsi tersebut. Pemerintah setempat mengeluhkan kondisi yang telah terjadi selama puluhan tahun tersebut. Karena itu,beberapa hari lalu, unsur Pemerintah Provinsi Jambi mendatangi Pemkot Pagaralam guna mencari solusi masalah tersebut (m marzuki)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: