6.000 Guru Ngaji Tak Ada Insentif

PALEMBANG (SI) – Dari 14.000 guru ngaji yang ada di Sumatera Selatan (Sumsel) saat ini baru 8.000 saja yang mendapatkan bantuan dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumsel. Sementara 6.000 lainnya masih belum menerima bantuan sebesar Rp600.000.

”Di Sumsel saat ini terdapat sekitar 14.000 guru ngaji, namun yang telah mendapat bantuan dari Pemprov baru sebanyak 8 ribu orang, tetapi ini tetap kita syukuri,” ujar Ketua Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Sumsel Al Hanan Hasir, saat ditemui di tengah-tengah Rapat Pimpinan Wilayah (Rapimwim), di Palembang kemarin.

Menurutnya, bantuan itu sendiri berupa insentif sebesar Rp600 ribu untuk setiap guru ngaji. Untuk itu, kiranya bagi guru ngaji yang belum mendapatkan bantuan kiranya dapat diusahakan agar bisa mendapatkan insentif seperti guru-guru ngaji lainnya. ”Hal ini sudah kita usahakan dan laporkan kepada Pemprov Sumsel. Diharapkan pada tahun mendatang semua guru yang ada bisa mendapatkan insentif untuk kesejahteraan para ustad dan ustadzah di Sumsel tersebut,” papar dia.

Dalam kesempatan tersebut, dirinya juga mengungkapkan setiap tahunnya guru ngaji di Sumsel juga bertambah pesat. Dimana, untuk Palembang saja, setiap mengadakan pelatihan yang bisa menelurkan 300 ustad dan ustadzah setiap tahunnya.

Selain itu, pihaknya juga menyoroti Keputusan Majelis Ulama Indonesia (MUI) pusat yang menghalalkan penggunaan vaksin meningitis bagi Jemaah Calon Jahi (JCH) yang baru pertama kali menunaikan ibadah haji.

”Pemerintah harus mencari jalan keluar terbaik mengenai masalah ini, karena memang hukumnya haram jika vaksin tersebut mengandung enzim babi,” ujar dia.

Dirinya berpendapat bahwa keputusan pemerintah Arab Saudi yang melarang JCH masuk ke tanah suci jika belum mendapat suntikan vaksin meninigitis memang harus kita hargai. Namun apakah harus mengandung enzim babi, terlebih banyak vaksin lain yang pastinya lebih aman.

”Malaysia telah menemukan vaksin meningitis yang tidak mengandung enzim babi. Jadi mengapa harus yang mengandung enzim babi. Untuk itu, hal ini kita minta dikaji ulang,” tukas dia.

Lebih lanjut dikatakannya, saat ini jangan kepentingan umat dikalahkan kepentingan pabrik atau kepentingan lainnya. Untuk itu, semua pihak harus cermat melihatnya. Pemerintah Arab Saudi memang melarang jika tidak disuntik vaksin meningitis, namun dalam aturan tersebut kan tidak disebutkan vaksin tersebut harus menggunakan enzim babi.

Ditambahkannya, pihaknya sepakat dengan MUI Sumsel yang memang berpendapat bahwa penggunaan vaksin tersebut tetap haram karena masih mengandung enzim babi. ”Saya baru-baru ini melaksanakan umroh dan tidak disuntik vaksin meningitis, aman-aman aja kok. Jadi, hal ini harus dikaji ulang,” tukas dia.

Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) H Najib Haitami mengatakan, saat ini pihaknya tengah meminta petunjuk Menteri Agama tentang adanya kontroversi halal haram penggunaan vaksin menengitis bagi Jemaah Calon Haji (JCH). Terutama penggunaan vaksin yang mengandung enzim babi bagi jemaah yang kedua kalinya. Hal ini dilakukan agar tidak menimbulkan kegelisahan terhadap para jemaah.

“Memang beberapa JCH mengaku bingung atas keluarnya fatwa MUI mengenai vaksin yang kini diwajibkan pemerintah Arab Saudi sebagai syarat masuk menuju tanah suci. Padahal, penggunaan vaksin tersebut adalah haram. Untuk itu, agar tidak menyalahi kita minta petujuk pusat,” ujar Najib. (yayan darwansah)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: