MUI Canangkan Gerakan Rp1.000

PALEMBANG (SI) – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Selatan (Sumsel) bersama organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam dalam waktu dekat akan mendatangi kalangan DPRD Provinsi Sumsel.

Mereka akan mencanangkan gerakan Rp1.000 untuk Masjid Sriwijaya. Aksi ini terkait pembangunan Islamic Center Masjid Sriwijaya dan Universitas Islam Negeri (UIN) di kawasan Jakabaring,Palembang, yang dipermasalahkan Dewan. Dengan adanya pertemuan, MUI berharap titik permasalahan yang mencuat selama ini dapat menemukan solusi. Bahkan, untuk membangun Masjid Sriwijaya, MUI mencanangkan gerakan Rp1.000 untuk menyumbang dalam rangka mencukupi dana pembangunan yang mencapai Rp80 miliar. “Memang kita akan melakukan pertemuan dengan DPR Provinsi Sumsel. Di mana, pembangunan kawasan keagamaan tersebut sangat penting untuk mengembalikan kejayaan Sumsel.

Apalagi,pada 1800 sebelum masehi Palembang merupakan kota wali-wali,” ujar Ketua MUI Sumsel KH Sodiku didampingi ormas Islam, seperti Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), Jamaah Islamiah, Majelis Mujahidin, Forum Umat Islam (FUI), dan HTI lainnya,dalam jumpa pers di Kantor MUI Sumsel kemarin. Menurut dia, dengan adanya pertemuan tersebut, diharapkan ada keterbukaan hati bagi kalangan Dewan untuk menyukseskan pembangunan tersebut. Pasalnya, jika Dewan mendukung pembangunan tersebut, bukan tidak mungkin pembangunan yang diprogramkan Gubernur Sumsel H Alex Noerdin dapat berjalan.

Apalagi, jika Dewan dapat menyetujui tambahan dana untuk pembangunan Islamic Center tersebut. “Islamic Center tersebut sangatlah penting. Untuk itu, kita harapkan Dewan dapat terbuka hatinya. Dengan begitu, pembangunan kawasan keagamaan yang dipusatkan di kawasan Jakabaring tersebut dapat berjalan sesuai rencana,”tukas dia. Menurut Sodikun, khusus untuk pembangunan Masjid Sriwijaya, pihaknya akan melakukan gerakan sumbang Rp1.000 di seluruh Sumsel. Sebab, pembangunan masjid yang menelan dana Rp80 miliar tersebut sama sekali tidak menggunakan APBD, tetapi murni sumbangan dari para donatur.

Untuk itu,jika dana yang ada digalang dengan baik bukan tidak mungkin dana yang ada dapat tercukupi dengan mudah. “Saat ini dana yang terkumpul sudah lebih dari Rp1 miliar. Di mana, 95% donatur adalah putra Sumsel yang ada di Jakarta,” ujarnya seraya menambahkan, mengapa MUI dan ormas Islam mendukung pembangunan tersebut karena untuk menciptakan Sumsel sebagai daerah keagamaan. Tetapi, jika Gubernur akan membuat diskotek atau lainnya, pasti kita juga akan menolak.Untuk itu, kiranya Dewan dapat mengerti. MUI juga meminta agar dewan yang tidak mengerti permasalahan untuk tidak banyak berkomentar. “Sebaiknya yang bukan ahli janganlah berkomentar masalah Islamic Center, UIN dan Masjid Sriwijaya. Jadi cukup para ulama yang bicara,” tukas penasihat pembangunan Masjid Sriwijaya ini.

Majelis Mujahidin Sumsel Ustadz Arfan menegaskan, jika melihat apa yang digagas Gubernur Sumsel, wajib didukung penuh, apalagi kalangan Dewan belum tentu berani melakukan terobosan yang dilakukan Gubernur. Untuk itu, pihaknya bersama MUI dan ormas Islam lainnya akan mendatangi DPRD Provinsi Sumsel. “Dengan pertemuan nantinya, diharapkan ada komunikasi antar tokoh ini. Kemungkinan juga nantinya kita akan datangkan Mantan Gubernur Sumsel H Mahyudin sebagai penggagas pembangunan Masjid Sriwijaya. Dengan begitu akan jelas duduk permasalahannya,”tukas dia. Kemudian, saat pembangunan nantinya juga harus kontraktor yang amanah.

Dengan begitu, pembangunan kawasan tersebut akan baik dan tidak mudah rusak. Apalagi, nantinya masyarakat akan menyumbang untuk pembangunan yang ada. Ketua FUI Sumsel KH Umar Said menambahkan, untuk pembangunan yang ada, DPR harus memanggil semua kelompok baik yang pro dan kontra atas pembangunan tersebut. Dengan begitu, tidak akan terjadi permasalahan dan perdebatan liar mengenai masalah ini. “DPR meminta atau tidak meminta harus mengundang MUI dan ormas Islam. Dengan begitu, duduk permasalahan yang ada dapat jelas dan seimbang. Jangan hanya sepihak sehingga terkesan menyudutkan,” papar dia.

Untuk itu, pihaknya mendukung penuh kebijakan Gubernur Sumsel yang akan membangun tiga pusat aktivitas keislaman dan keilmuan, yakni Islamic Center, Masjid Sriwijaya, dan UIN. Karena itu, guna mewujudkan pembangunan yang ada perlu kesungguhan, semangat, dan penguatan peran serta partisipasi aktif dan konkret dan seluruh komponen masyarakat. “Pembangunan ini butuh dukungan penuh, baik Pemprov Sumsel,DPRD Sumsel,tokoh nasional asal Sumsel, pengusaha, ormas Islam, maupun masyarakat Sumsel,” pungkas dia.

Dia menjelaskan, untuk mewujudkan pembangunan tersebut seperti gerakan Rp1.000 dengan rincian masyarakat umum sumbangan Rp1.000, PNS Rp10.000 pengusaha Rp100.000, pejabat Rp100 juta dan pemimpin Rp1 miliar. Sebab, pembangunan yang ada sama sekali tidak tergantung dengan APBD. Jadi butuh bantuan semua pihak.

Lokasi UIN dan Masjid Sriwijaya di Pangeran Ratu

Lahan pembangunan Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang dan Masjid Sriwijaya dibebaskan. Lahan seluas 35 ha untuk pembangunan UIN dan 15 ha untuk Masjid Sriwijaya saat ini tengah dilakukan negosiasi antara Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Selatan (Sumsel) dengan warga di Jalan Pangeran Ratu,Kelurahan 5 dan 8 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu I, simpang tiga Pasar Induk Jakabaring,Palembang.

“Kita telah menentukan kepastian lokasi pembangunan UIN Raden Fatah Palembang dan lokasi lahan Masjid Sriwijaya. Kita tengah berupaya melakukan pembebasan lahan yang ada,” ujar Kepala Biro (Karo) Pemerintahan Sumsel Mulyadin Roham seusai rapat rencana lokasi UIN Raden Fatah Palembang dan Masjid Sriwijaya di Palembang kemarin. Saat ini pihaknya melakukan penetapan lokasi pembangunan Masjid Sriwijaya dan UIN Raden Fatah Palembang. Lahan yang ditentukan pada rapat tepatnya di Jalan Pangeran Ratu,Kelurahan 5 Ulu,dan 8 Ulu,Kecamatan Seberang Ulu I, simpang tiga Pasar Induk Jakabaring, termasuk di belakang imigrasi.

“Untuk tepatnya lokasi UIN Raden Fatah berada di sisi kanan Jalan Pangeran Ratu seluas 15 ha, sementara untuk Masjid Sriwijaya berada di sebelah kiri Jalan Pangeran Ratu, tepatnya berse-berangan dengan UIN Raden Fatah, seluas 35 ha,”ungkapnya. Menurut Mulyadin, untuk Masjid Sriwijaya dari 15 ha sudah dibebaskan sekitar 7,7 ha, ada juga sumbangan dari warga. Sementara, untuk UIN Raden Fatah di atas lahan 35 ha dan 27 ha sudah dibebaskan, ada 9 ha lahan milik Amin Mulya. (yayan darwansah)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: