Sumsel Khawatir Songket China

PALEMBANG (SI) – Diberlakukannya ASEAN China Free Trade Agreement (ACFTA) cukup mengkhawatirkan Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) terutama untuk songket.

Pasalnya, jika kualitas, kreatifitas dan corak-corak songket tidak diperkuat maka dikhawatirkan kerajian tersebut akan kalah saing dengan produk China. Apalagi, pembuatan songket Palembang Sumsel menggunakan tangan, waktunya cukup lama dan harganya cukup tinggi dari Rp300.000 hingga ratusan juta. Tetapi, jika China juga mengeluarkan songket dengan kualitas baik, bagus, harga murah dan menggunakan alat canggih maka bisa dipastian songket Palembang Sumsel akan kalah.

Untuk itulah, guna menghindari hal tersebut mulai saat ini harus dilakukan berbagai perbaikan meskipun songket Sumsel tidak ada tandingannya. ”Lihat saja sudah banyak barang yang kalah bersaing dengan produk China. Contohnya, Negara Eropa menjual gantungan kunci 2 Euro perbuah. Sementara China menjual gantungan kunci dengan kualitas dan bahan yang sama 1 Euro dapat 10 buah. Jadi, jika kita memperbaiki kondisi songket maka tidak akan seperti gantungan kunci Negara Eropa,” ujar Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Sumsel Abdul Sobur, di Palembang, kemarin.

Dikatakannya, saat ini Sumsel tidak menghkawatirkan Malaysia karena songket tidak ada tandingannya. Tetapi, yang dikhawatirkan adalah China. Apalagi, pihaknya tidak bisa menghentikan mereka pada perdagangan bebas ini.

”Guna mengantisipasi hal tersebut saat ini kita tengah memberikan pengajaran kepada kaum muda guna melestarikan kerajinan songket. Dengan begitu, jika masuknya songket dari China tentunya tidak akan berpengaruh,” papar dia.

Sobur mengatakan, saat ini tidak bisa hanya mengandalkan SDA dan SDM saja. Untuk itu, keseriusan untuk mempertahankan adat tersebut sangat perlu dipertahankan. Dengan begitu, masuknya songket dari China meskipun kualitasnya bagus, harganya murah dan lainnya tidak akan masalah.

Dikatakannya, untuk menghindari penjeplakan songket Palembang Sumsel tersebut saat ini pihaknya telah mematenkan sedikitnya 125 motif. Dengan begitu, bisa dipastikan songket Sumsel akan aman. ”Kita sudah patenkan sedikitnya 125 motif songket di Sumsel. Jadi, dengan begitu akan membuat kerajinan kita itu aman dan tidak diakui oleh Negara lain,” papar dia.

Ketika ditanya menyangkut adanya Negara Malaysia yang belajar tentang tenun dan batik Palembang Sobur mengatakan, pihaknya tidak bisa melarang Negara lain untuk mengetahui batik dan songket Sumsel. Sebab, semua ini adalah untuk kepentingan promosi dan lainnya sehingga akan menguntungkan.

”Di Negara ini untuk songket kita adalah yang utama. Jadi, kita tegaskan bukannya Sumsel yang belajar ke Malaysia tetapi Malaysia-lah yang belajar ke kita,” tegas dia.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sumsel H Eppy Mirza mengatakan, produk-produk buatan Indonesia sudah dipastikan akan kalah bersaing dan sulit diunggulkan dengan produk-produk dari negara-negara ASEAN dan China pada ACFTA ini. Pasalnya, produk dari negara tersebut dapat mengalahkan produk dari Indonesia seperti Sepatu, elektronik, baja, tekstil dan lainnya.
Namun, untuk Sumsel akan aman dari serangan berbagai produk China tersebut karena memiliki keunggulan yakni Songet yang khas dengan tenunan unggul. “Dengan diberlakukannya perdagangan bebas ini, jelas sekali produk-produk Indonesia sulit sekali bersaing terutama mengenai mutu dan kualitas. Tapi khusus di Sumsel, produk-produk asli tidak akan kalah bersaing dan malah tetap menjadi produk unggulan seperti songket dan lainnya,” ujar Eppy.
Dikatakannya, produk songket buatan Sumsel memiliki kualitas yang unggul di bandingkan tenunan songket dari negara-negara rumpun melayu lainnya seperti Malaysia dan Thailand. Terlebih lagi, produk-produk yang berkaitan dengan kebudayaan tetap memiliki pangsa pasar tersendiri. Oleh karena itu, produk ini aman dari dampak perdagangan bebas nantinya.
Sementara itu, Delegasi Jawatan Kuasa Pembangunan Luar Bandar Usahawan dan Koperasi Negeri Terengganu Malaysia Bapak Datok H Mohammed Bin Awang Tera mengatakan, kedatangan pihaknya tersebut untuk belajar mengenai kerajinan yang ada di Sumsel. Apalagi, di Negara-nya juga terdapat kerajinan seperti batik dan songket. Namun, kerajinan tersebut umumnya memakai bahan lilin.

”Di Negara kami jika baju itu memakai lilin itu sudah namanya batik. Tetapi, untuk songket kita tidak punya. Untuk itulah, kita menilai songket dari Sumsel ini sangat baik dan bagus,” papar dia. (yayan darwansah)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: