Waspadai Daging Mengandung B3

PALEMBANG (SI) – Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) dan Satuan Kerja Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman (Sanitasi & Persampahan) Dinas PU Cipta Karya Provinsi Sumsel mengimbau warga dan peternak agar tidak melepas binatang ternaknya, seperti sapi, di tempat pembuangan akhir (TPA).

Pasalnya, berdasarkan penelitian, daging sapi yang dihasilkan mengandung bahan berbahaya dan beracun (B3). “Untuk itulah, kondisi ini harus diwaspadai,” ujar Satker Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman (Sanitasi & Persampahan) Dinas PU Cipta Karya Saiful di Palembang kemarin.

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, daging sapi tersebut mengandung timbal, logamlogam terlarut berbahaya, dan bahan beracun lainnya dari sampah yang dimakan sapi di tumpukan sampah. Sebab, sampah yang sudah tertumpuk akan mengeluarkan gas metan,cairan limbah atau liced yang mengandung merkuri sehingga berbahaya jika dikonsumsi. “Jangankan daging yang tidak layak dikonsumsi jika mengandung B3.Tanah dan air saja, jika sudah tercemar cairan limbah dari tumpukan sampah akan tercemar mencapai 30 tahun.

Karena itu, tempat pembuangan sampah harus jauh dari pemukiman,” sebut Saiful. Untuk di Sumsel, lanjut Saiful, berdasarkan pemantauan pihaknya, meskipun ada, intensitasnya sangat sedikit sapi yang kerap dilepas dan mencari makan di TPA. Jadi, dengan kondisi ini, diharapkan instansi terkait dapat memberikan pengertian kepada warga dan peternak untuk tidak melepaskan sapinya di TPA karena berbahaya.

Kemudian, dalam pengelolaan sampah di Sumsel juga harus baik agar pencemaran tidak terjadi. Seperti lapisan bawah TPA harus dibuatkan geo membran beserta saluran untuk mengeluarkan gas CO2 ke udara agar sampah yang ada tidak mudah terbakar. Lalu, lapisan itu juga dilengkapi pipa penyalur cairan limbah atau lindi/liced agar tidak mencemarkan lingkungan.

“Cairan limbah tersebut tidak boleh asal dibuang saja ke lingkungan. Sebab, dampaknya sangat besar. Untuk itu, harus disalurkan ke kolam penyaringan sehingga dinetralkan, ”bebernya. Saiful menjelaskan, untuk saat ini masih ada beberapa daerah yang belum memperhatikan ketentuan pengelolaan sampah yang baik.Di mana,TPA masih berada di lereng bukit yang berbatasan langsung dengan sungai.

Akibatnya, ketika hujan, sampah yang ada hanyut ke sungai sehingga terjadi pencemaran.Karena itu, jika pada 2015 masih ada daerah yang buruk dalam mengelola limbah,akan dikenakan sanksi. “Sesuai UU No 18/2008, bagi TPA yang terjadi pencemaran,bupati/ wali kota akan dituntut sesuai hukum. Mereka wajib mengembalikan lingkungan agar tidak tercemar dan didenda Rp5 miliar,”tegasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Peternakan Provinsi Sumsel Asrillazi membantah terdapat ternak sapi yang dilepas dan mencari makan di TPA. Namun, dia tidak menampik jika sapi diberikan pakan berupa sisa-sisa sayuran dari pasar. “Memang kita tidak menganjurkan petani untuk melepas ternaknya ke TPA untuk mencari makan,”katanya. (yayan darwansah)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: