637 Pekerja Migran jadi Korban Kekerasan

Kasus Kekerasan Meningkat 15%

PALEMBANG (SI) – Hingga Juli 2010, Dinas Sosial Provinsi Sumsel mencatat sedikitnya terdapat 637 korban kekerasan dan pekerja migran. Kondisi ini mengalami peningkatan mencapai 15% jika dibandingkan pada tahun 2009 lalu.

”Korban kekerasan dan pekerja migran mengalami peningkatan mencapai 15%. Dimana, berdasarkan data yang kita dapatkan dari Trauma Center Sriwijaya milik Dinsos Sumsel, hingga Juni 2010, kita telah terjadi 637 korban tindak kekerasan dan pekerja migran yang ada di Sumsel,” ujar Kepala Dinas Sosial Provinsi Sumsel, Hj Ratnawati melalui, Kabid Bantuan Jaminan dan Sosial Provinsi Sumsel, H Ms Sumarwan, di Palembang, kemarin.

Marwan mengatakan, kondisinya ini seperti gunung es jumlahnya kecil dipermukaan banyak di bawahnya. Untuk itu, Dinsos melakukan upaya pemulihan kondisi fisik dan psikis korban kekerasan, juga memberikan dana stimulan untuk usaha agar kondisi mereka dapat lebih baik lagi.

”Angka yang cukup tinggi dan peningkatan jumlah tindak kekerasan dipengaruhi karakter, tipikal, masyarakat Sumsel yang tempramental. Sehingga dominan terjadi tindak kekerasan secara fisik. Setelah kita kaji ternyata kasus perselingkuhan adalah penyebab utama tingginya jumlah tindak kekerasan,” ujar dia.

Tindak kekerasan ini sambung Marwan, tidak hanya dilakukan suami ke istri seperti menelantarkan anak istri karena berselingkuh, tapi ada juga istri kepada suaminya karena jengkel dan ditelantarkan suami dan lainnya.

Ditambahkan, Kepala Seksi (Kasi) Korban Tindak Kekerasan dan Pekerja Migran Dinsos Sumsel Meri Eliza, beberapa kasus kekerasan yang dilaporkan ke Trauma Center Sriwijaya milik Dinsos seperti kekerasan karena nikah sirih, nikah bawah umur, ada juga kekerasan fisik karena faktor ekonomi dan lainnya. Tetapi mayoritas akibat istri kedua atau nikah sirih. Para korban ini, dirujuk oleh pendampingnya seperti dari organisasi sosial dan yayasan sosial lalu dibawa ke trauma center untuk dipulihkan baik secara fisik dan psikisnya.

”Kita telah mengajak tokoh agama, dokter, psikolog dan tokoh masyarakat, untuk melakukan upaya bimbingan, dan mengajak berkomunikasi dengan para korban. Hal ini untuk memulihkan kondisi fisik dan psikologi mereka yang sempat terganggu karena menjadi korban tindak kekerasan,” ujar dia.

Kemudian, Dinsos juga memberikan keterampilan selama 3-6 bulan kepada korban kekerasan. Bahkan ada dana stimulan untuk usaha sekitar Rp3 juta, agar setelah dipulihkan dan selesai dibimbing, mereka tidak termenung lagi di rumah, sudah ada kesibukan.

”Banyak korban kekerasan yang takut melaporkan tindak kekerasan yang dialaminya karena takut akan sampai ke ranah hukum, sehingga mereka memendam masalahnya sendiri tanpa ada jalan keluar lalu tertekan mental. Oleh karena itulah, dengan adanya pelatihan diharapkan mereka dapat sedikit melupakan tindak kekerasan yang pernah mereka alami,” papar dia seraya menambahkan, mereka itu pikirannya akan kosong, tanpa aktifitas, fisik dan psikis, berakibat pengaruh mental sosialnya sehingga membuat mereka akan malas bekerja. Untuk itulah, kita beri pembekalan mental sosial, memberikan ketrampilan dan kegiatan, bahkan setelah dari trauma center, kita juga masih terus membina mereka saat di rumah,” pungkas dia. (yayan darwansah)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: