Masa Berlaku Tangki Timbun Hanya 6 Tahun

PALEMBANG (SI) – Masa berlaku tangki timbun Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk setiap Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) hanya berlaku hingga enam tahun. Untuk itulah, Balai Kemetrologian Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) berharap setiap SPBU untuk melakukan perawatan atau pemeliharaan terhadap tangki timbun jika melewati masa tersebut.

Jika tidak, maka dipastikan tingkat kehilangan atau loses terhadap BBM yang disimpan akan tinggi. Selain itu, kondisi tersebut juga berdampak terhadap kerugian SPBU. ”Jika melewati enam tahun maka tangki timbun yang dibuat dari baja akan rusak sehingga rentan terhadap kebocoran. Untuk itu, kita harapkan untuk dipelihara agar tidak mengalami kerugian atas terjadinya kebocoran dan lainnya,” ujar Penera UPTD Balai Kemetrologian Disperindagkop Provinsi Sumsel Budi Suhendra, usai melakukan sosialisasi cara penggunaan alat ukur SPBU terhadap pengawas dan operator SPBU se Sumsel, di hotel Bumi Asih, kemarin.

Selain rentan terhadap terjadinya kebocoran, dalam jangka waktu enam tahun kondisi tangki timbun juga dikhawatirkan terjadi kemiringan akibat beban yang terlalu berat. Hal ini sangat berpengaruh terhadap upaya pengukuran BBM yang berada didalam tangki. Sebab, satu sentimeter tangki mengalami kemiringan untuk BBM 45 ton maka selisih pengukuran akan mengalami perbedaan mencapai 250 liter.

Oleh karena itu, menurut dia, kondisi tangki timbun sangat dipengaruhi konstruksi. ”Bayangkan saja, jika mengalami kemiringan satu sentimeter saja untuk BBM sebanyak 45 ton maka mengalami perbedaan pengukuran mencapai 250 liter BBM. Dengan kondis ini berapa banyak pihak SPBU yang dirugikan. Untuk itulah, diharapkan konstruksi tangki timbun harus diperhatikan setiap tahunnya,” ujar dia.

Dengan kondisi tersebut berdampak banyaknya pihak SPBU yang berteriak kurang atau BBM mengalami loses. Untuk itulah, pihaknya melakukan sosialisasi cara penggunaan alat ukur atau tera yang berada disetiap SPBU seperti alat ukur tangki timbun, tangki ukur dan bejana ukur atau dispensernya SPBU. ”Disetiap SPBU banyak sekali alat ukur. Dimana, fungsi alat ukur ini untuk mengetahui berapa banyak BBM yang ada di SPBU tersebut. Jika salah ukur yang disebabkan beberapa faktor sangat berdampak pada stock yang kurang,” ujar dia.

Sementara itu, Kepala UPTD Balai Kemetrologian Disperindagkop Sumsel Uron mengatakan, sosialisasi ini dilakukan agar para pemilik SPBU untuk mengetahui beberapa hal yang perlu diperhatikan. Dengan begitu, tidak akan terjadi kerugian yang dialami SPBU tersebut. ”Pada sosialisasi ini kita menghadirkan semua pihak yang ada di SPBU seperti operator dan pengawas. Selain itu, ada juga pihak dari Disperindag dari Kabupaten/Kota untuk mempelajari bagaimana cara menggunakan alat ukur untuk emas, gas, BBM dan lainnya,” tukas dia. (yayan darwansah)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: