Palembang-Muba Tertinggi KDRT

PALEMBANG(SI) – Komisi Nasional (Komnas) Perempuan mencatat,tindak kekerasan terhadap perempuan di Sumatera Selatan (Sumsel) sangat tinggi, terutama di Kota Palembang dan Kabupaten Muba.

Untuk itu, Komnas Perempuan akan terjun langsung ke lokasi guna melakukan pemulihan. Dengan begitu, kasus kekerasan terhadap perempuan yang umumnya terjadi di dalam rumah tangga menurun. Anggota Komisioner Subkomunikasi Pemulihan Komnas Perempuan Nini Rahayu mengatakan,secara nasional kasus KDRT paling banyak terjadi di DKI Jakarta. Mengingat, daerah tersebut merupakan daerah transnasional dan multikultural. Selain itu, Sulawesi Utara dan Sumsel juga merupakan daerah yang cukup tinggi angka KDRT-nya.“KDRT di Palembang dan Muba tertinggi di Sumsel.

Karena itulah, harus menjadi perhatian khusus dan serius.Kita akan turun langsung ke dua daerah itu,” ujar Nini seusai melakukan pertemuan dengan Asisten III Pemprov Sumsel di Palembang kemarin. Nini menuturkan, masih tingginya kekerasan terhadap perempuan menunjukkan belum maksimalnya perlindungan kepada perempuan dari ancaman kekerasan di dua daerah tersebut. Diharapkan proses penyadaran dan perlindungan kepada perempuan bisa tersosialisasi dengan baik di seluruh daerah. Pemerintah daerah juga harus mengimplementasikan kebijakan pemerintah pusat dalam upaya melindungi perempuan dari ancaman kekerasan dalam rumah tangga.Dengan begitu,KDRT ini dapat berkurang.

“Dalam persoalan ini, pemda masih banyak terjebak pada kepentingannya sendiri sehingga terkesan berjalan sendiri.Itu bisa dibuktikan dengan adanya perda yang bertentangan dengan undangundang tentang perlindungan perempuan. Akibatnya, upaya untuk melakukan pemulihan dan pengurangan tindak kekerasan dengan sosialisasi kurang berjalan,” paparnya. Dia membeberkan,kasus kekerasan terhadap perempuan di Indonesia mengalami tren peningkatan yang signifikan pada 2010.Disebutkan, pada 2009 persentase peningkatanmencapai263%. Dimanasebelumnya pada 2008 kekerasan terhadap perempuan mencapai 54.425 kasus, tetapipada2009meningkatmenjadi 143.586 atau 263%.

Dari jumlah kasus yang ada,96%-nya merupakan kekerasan terhadap istri dalam rumah tangga,yaitu 136.849 kasus. “Jumlah itu meningkat hampir tiga kali lipat dari tahun sebelumnya. Dari jumlah sebanyak itu,kekerasan dalam rumah tangga masih menjadi peringkat pertama. Penyebabnya, kebanyakan karena faktor ekonomi. Faktor lain yang menyebabkan hal tersebutyaknikonflikmiliterseperti di Poso dan Papua. Selain itu, kekerasan yang berlatar sumber daya alam (SDA) di Sidoarjo dan kekerasan yang berlatar agama seperti kasus Ahmadiyah,”paparnya. Sementaraitu,AsistenIIIbidang Kesejahteraan Masyarakat (Kesra) Sumsel H Aidit Aziz mengatakan, tingginya kasus kekerasan di Sumsel ini banyak disebabkan masalah ekonomi.

Dimana,dengantingginya tuntutan dalam kebutuhan rumah tangga membuat suami atau istri kerap cekcok.Akibatnya,kekerasan dalam rumah tangga terjadi. Guna menghindari dan meminimalisasi terjadinya KDRT,Pemprov Sumsel melalui Dinas Sosial (Dinsos) kerap memberikan pelatihan dan modal kepada para korban KDRT. Dengan adanya modal dan keterampilan,diharapkan mereka dapat bekerja sehingga himpitan ekonomi bukan lagi menjadi pemicu terjadinya KDRT.

Kepala Bidang (Kabid) Bantuan Jaminan Sosial (Banjamsos) Dinsos Sumsel HM Sumarwan menambahkan, korban tindak kekerasan terbanyak terjadi di Kota Palembang,sebanyak 507 orang. (erwanto/yayan darwansah)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: